Cerita Pembuat Perahu Tradisional di Tanjung Luar

Ahmad  Rofii, seorang nelayan Tanjung Luar tampak sibuk di salah satu sudut pinggir pantai, kemarin. Di tangan kanannya ia memegang sebuah palu besi perukuran sedang. Rautnya nampak serius memandang lambung sampan yang tengah dibangunnya. Setelah mengamati sejenak, ia mulai mengayunkan palu yang dipegangnya itu. Palu itu dipukul-pukulkan ke badan perahu yang masih setengah jadi. Suara logam beradu  bersahutan dengan ombak yang seoalah memanggil para nelayan untuk segera pulang.

 ”Sebentar lagi ini sudah bisa dipakai melaut,” katanya menunjuk ke arah perahu tersebut.

Hari itu dia sedang melanjutkan pengerjaan perahu yang sudah hampir sebulan ini dikerjakannya. Melihat progres yang ada, Rofii menargetkan perahu sepanjang lebih dari lima meter itu akan rampung kurang dari sepekan lagi. Cukup satu bulan baginya untuk mengerjakan sebuah perahu yang terbilang cukup besar itu.

”Soalnya saya kerja sendiri, kalau dibantu, bisa dua minggu saja,” katanya sambil terus melanjutkan pekerjaan.

Tak butuh galangan kapal khusus bagi Rofii untuk bekerja. Sebuah bengkel sederhana beratapkan ilalang seadanya di pinggir pantai lebih dari cukup baginya.  Pengalaman telah mengajarkannya berhitung cermat bagaimana menghasilkan sampan berkualitas.

Bukan hanya dirinya. Menurutnya semua orang di desa itu bisa membuat perahu. Hanya saja beberapa tak memiliki waktu yang cukup, sehingga memilih memesan perahu pada pembuat seperti dirinya.

Nyaris tak ada paku besi yang digunakan untuk merekatkan papan yang satu dengan lainnya. Cukup menggunakan pasak yang terbuat dari kayu, ditambah serbuk gergaji kayu itu yang sudah dicampur lem. Dipastikan tak akan ada kebocoran, dan bisa digunakan hingga dua tahun lamanya. Setelah itu, barulah reparasi dibutuhkan. Yakni kembali merekatkan lubang-lubang yang ada dan mengganti bagian yang sudah usang.

Sedikitnya diperlukan dana Rp 20 juta untuk pengerjaan sebuah  perahu. Dengan modal tersebut, perahu yang jadi bisa dihargai hingga Rp 25 juta. Sebuah nominal yang cukup baginya untuk bertahan hidup. Kalaupun tak ada pesanan, ia tinggal kembali menjalani profesi semula sebagai nelayan yang mencari ikan.

”Semua kami diajarkan turun-temurun, buat perahu itu tak susah,” katanya lantas terkekeh.

Bagi pria yang kesehariannya berbahasa Bajo tersebut, membuat perahu jauh lebih mudah ketimbang memperbaiki atap yang bocor. Kendati dengan alat seadanya, dan tampa pernah belajar khusus, mereka tetap bisa membuat perahu yang presisi. Yang mampu mengarungi samudra. Kendati tak pernah  sekolah khusus merancang dan membangun kapal namun  keunggulan hasil buatan tangan nelayan Tanjung Luar sangat diakui. ”Desa lain kalau mau perahu bagus, biasanya mesan di Tanjung Luar,” tukasnya. (*)