Uma Lengge, Bukti Sejarah Masyarakat Suku Mbojo

Kabupaten Bima adalah salahsatu daerah dari 10 Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menyimpan segudang destinasi wisata yang masih alami dan belum banyak dikunjungi wisatawan.  Kendati tidak seperti daerah lain di NTB yang menyajikan wisata bahari, namun Kabupaten Bima menyimpan banyak destinasi wisata berupa adat budaya yang masih dilestarikan oleh masyarakatnya dan hingga kini masih dilestarikan. Demikian itu menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Bima. Selain terkenal karena pacuan kudanya, daya tarik wisata lainnya yang bisa dikunjungi di Bima adalah rumah tradisionalnya yang disebut Uma Lengge dan Uma Jompa, salah satu rumah adat tradisional yang berdiri sejak ratusan tahun silam dimana rumah tradisonal itu adalah peninggalan asli nenek moyang suku Bima yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi yang hingga sekarang masih difungsikan oleh masyarakat tradisonal setempat dan menjadi salahsatu cagar budaya yang masih terjaga kelestariannya.
 
      Uma Lengge memiliki makna Uma berarti rumah dan lengge berarti mengerucut atau pucuk yang menyilang dengan ukuran tinggi antara 5-7 cm, bertiang 4 balok kayu, beratap atau butu uma yang terbuat dari alang-alang yang menutupi tiga per empat bagian rumah sekaligus sebagai dinding dan memiliki pintu masuk dibagian bawah atap uma. Adapun langit-langit atau taja uma yang terbuat dari kayu lontar, serta lantai yang terbuat dari kayu pohon pinang atau pohon kelapa. Pada bagian tiang rumah juga digunakan balok kayu sebagai penyanggah, yang fungsinya sebagai penguat setiap tiang-tiang uma lengge. Setruktur bentuk tiang uma lengge juga terlihat berbeda dari biasanya dimana pada 4 tiang balok penyangga dipasang papan berbetuk empar persegi yang dimaksudkan agar binatang seperti tikus tidak mudah naik melalui tiang uma lengge.
 
      Uma Jompa memiliki setruktur bangunan yang sedikit berbeda dari uma lengge, dimana uma jompa menggunakan dinding dari papan kayu dengan atap genteng, namun setruktur bentuk ukuran bangunannya sama. Konon, awal perubahan setruktur bentuk rumah tradisonal tersebut hanya menggunakan bahan atap alang-alang, namun karena lambat laun keberadaan alang-alang sudah mulai sulit diteemukan sehingga masyarakat setempat menggantinya dengan dinding yang terbuat dari papan.
 
      Uma Lengge dan uma Jompa memiliki 3 lantai, konon lantai pertama dimanfaatkan sebagai tempat berkumpulnya masyarakat pada saat mengadakan upcara adat. Kemudian konon lantai kedua digunakan sebagai tempat tinggal dan lantai yang ketiga dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan padi untuk persiapan mereka selama setahun.
 
       Lokasi kedua peninggalan adat tersebut terletak di Desa Maria, Kecamatan Maria, Kabupaten Bima. Perjalanan menuju ke sana dapat ditempuh dari kota Bima selama kurang lebih 45 menit perjalanan dengan menggunakan kendaraan rodaa empat. Jika dari Bandar Internasional Lombok (BIL) menuju Bandara Muhammad Salahuddin dengan pesawat menempuh jarak sekitar 35 menit.
Menurut Juru Peliharan Uma Lengge dan Uma Jompa tersebut, Jhonkarim, keberadaan komplek uma Lengge dan uma Jompa sudah berdiri sejak ratusan tahun silam bahkan sejak sebelum berdirinya raja kesultanan Bima. pada masa lalu masyarakat memnafaatkannya selain sebagai tempat tinggal juga sebagai tempat persedian makanan seperti padi, padi disimpan di Uma Lengge atau Uma Jompa untuk kebutuhan satu tahun. Penempatannya yang terpisah dengan rumah tinggal penduduk konon dimaksudkan untuk mencegah masyarakat untuk tidak boros. Maklum, masa panen hanya dilakukan sekali dalam setahun seiring turunnya hujan yang hanya turun pada setiap bulan juni saja.   Dengan demikian untuk mengirit jumlah pangeluaran untuk makan maka padi yang disimpan di dalam Uma Lengge atau Uma Jompa diambil seminggu sekali dengan menyesuaikan pada kebutuhan. Oleh karena itulah, kompleks Uma Lengge di Desa Maria dibangun agak jauh dari pemukiman penduduk. “setiap lengge ditempati oleh satu keluarga secara turun temurun,” tandasnya.
 
      Sejauh ini, kata Jhon, tidak sedikit wisatawan dari nusantara maupun mancanegara yang menyempatkan berkunjung ke komplek rumah tradisonal ini. Disamping keberadaannya yang sudah berumur ratusan tahun, komplek kedua uma ini juga menjadi saksi sejarah jejak masyarakat tradisonal suku Bima.
Di desa Maria tersebut, terdapat satu kompleks dengan jumlah sebanyak 108 Uma Lengge dan Uma Jompa yang masing-masing dimiliki oleh warga sekitar. Meskipun rumah-rumah tersebut kebanyakan tidak lagi digunakan sebagai tempat penyimpanan padi, dengan jumlahnya yang ada sekarang ini, Uma Lengge atau Uma Jompa yang ada di satu lokasi komplek, memberi kesan yang  berbeda dan unik. Tidak heran jika keberadaan kompleks ini layak untuk dijadikan salah satu tujuan wisata di Kabupaten Bima NTB. Jika anda mengunjungi lokasi komplek rumah tradisonal suku Bima tersebut seakan anda hidup pada zaman dahulu dimana kita dapat merasakan kehidupan masyarakat suku Bima pada tempo dulu.
 
      Seiring perubahan zaman, kualitas Uma Lengge maupun Uma Jompa banyak yang mengalami perubahan. sejumlah tiang balok kayu maupun atapnya sudah terlihat rapuh bahkan tinggal rubuh. Oleh karena perkembangan zaman juga, masyarakat lebih memilih tinggal di rumah yang lebih luas dan nyaman maka keberadaan uma lengge ini sudah semakin terkikis dan tertinggal. Fungsinya pun yang dahulunya sebagai tempat tinggal sudah dialihkan hanya sebagai lumbung padi dan terpisah dari rumah penduduk. Seperti halnya uma lengge yang ada di Desa Maria Kecamatan Wawo, uma lengge sudah ditempatkan dan dikelompokkan jauh dari areal rumah penduduk. Dari 108 uma lengge dan uma jompa sebagiannya sudah tidak difungsikan lagi. Padahal, selain komplek uma lengge dan uma jompa yang ada di Dusun tersebut trdapat juga dua uma lengge yang keberadaannya sudah tidak lagi dipelihara.
 
     Menurut, M. Iyakupadon tokoh adat Desa Wawo Maria, sesungguhnya selain uma lengge dan uma jompa di Wawo tiga lagi lokasi tempat komplek uma lengge dan uma jompa di Hilirasa. Nama uma lengge dahulunya adalah uma bue, setelah tahun 1935 uma lengge banyak yang berubah menjadi uma uompa. “uma jompa ada sekitar tahun 1952, sebetulnya setruktur awal rumah tradisonal suku Bima adalah Uma Lengge itu,” katanya.
 
     Uma Lengge dan uma jompa ini merupakan aset budaya Bima yang merupakan warisan leluhur Suku Bima yang dijaga dan dilestarikan untuk para generasi yang akan dating agar masyarakat mengathui kultur nenek moyang bangsa pada zaman dahulu. Disinilah dibutuhkan peran pemerintah daerah dibutuhkan guna melestarikan bangunan adat yang telah termakan usia. Tidak hanya pemerintah daerah  melainkan pemerintah pusat perlu turun tangan. Psalnya, Uma Lengge dan Uma Jompa adalah bagian dari kebudayaan nasional serta bukti sejarah masyarakat suku Bima pada ratusan tahun silam yang harus dijaga.
 
      Sementara itu, peran pemerintah daerah Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) juga harus ada karena kedua rumah tradisional tersebut ada dan terletak di daerah tersebut. Pemerintah melalui dana APBN dapat membantu merehabilitasi dan mengembangkan daerah tersebut sehingga dapat dijadikan daerah wisata yang lebih terkenal lagi.
 
      Sinergisitas antar lembaga stokholder jelas diperlukan dalam mengembangkan Uma Lengge dan Uma Jompa. Misalnya, Kementerian Pariwisata dapat menggencarkan mempromosikan Uma Lengge dan Uma Jompa di Desa Maria sebagai salah satu objek wisata di NTB. Kemudian, Kementerian Pekerjaan Umum dapat membantu merevitalisasi Uma Lengge dan Uma Jompa yang sudah mengalami kerusakan dengan tidak merubah setruktur bagian terpenting dari keberadaan bangunan tersebut. Seperti mengganti atap alang-alang yang sudah rusak dengan yang baru atau mengganti kayu yang sudah lapuk, sehingga Uma Lengge dan Uma Jompa tetap berdiri dan dapat dinikmati keindahannya oleh setiap pengunjung.
 
       Disamping itu juga, pemerintah juga lebih aktif dalam hal promosi menarik minat wisatawan untuk berkunjung, baik dalam rangka berwisata budaya maupun peneliatian-penelitian ilmiah. Pelestarian Uma Lengge dan Uma Jompa juga berguna untuk kepentingan pariwisata yang berimbas pada sector ekonomi masyarakat serta pendapatan daerah.
Oleh karena itu, selain campur tangan pemerintah pusat, peran dari Dinas Pariwisata di daerah juga diperlukan untuk membantu mengembangkan lokasi ini. Uma Lengge dan Uma Jompa dapat menjadi kebanggaan Nusa Tenggara Barat karena keunikan dan nilai sejarah lokal yang dimilikinya. Keduanya merupakan warisan leluhur yang sangat berarti bagi generasi selanjutnya karena menjadi bukti sejarah dan sumber cerita masa lalu bagi generasi yang akan datang.
 
      Menurut salah seorang anggota Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB ketika berkunjung ke lokasi, Lalu Hasannudin, menuturkan,  keberadaan uma lengge dan uma jompa ini adalaah bukti sejarah budaya daerah suku Bima yang masih tersisa. Asset budaya ini bias menjadi salahsatu potensi yang bias dijual nantinya untuk wisatawan.
     Dikatakannya, uma lengge dan uma jompa ini sudah masuk daftar destinasi wisata kunjungan yang diromosikan oleh semua travel agent yang ada di NTB. “ salahsatu langkah yang diambil oleh kami adalah dengan banyak mengekspos destinasi wisata budaya terutama di destinasi wisata budaya uma lengge dan uma jompa ini,” tandasnya.(*)