Mulang Pekelem: Harapan untuk Kesuburan Tanah Sasak

Sudah petang di Danau Segara Anak, cahaya bulan purnama jatuh ke permukaan air membuat suasana malam itu makin syahdu. Tapi ada yang berbeda di malam itu, puluhan bahkan ratusan umat Hindu baik warga setempat maupun umat Hindu yang datang dari Bali, Kalimantan dan wilayah Indonesia lainnya berkumpul dengan khidmat mendendangkan kidung Pangruwat Bumi, doa-doa serta mempersembahkan tarian suci kepada Jagad Dewanata. Upacara ini dinamakan Yadnya Mulang Pekelem dan Yadnya Bumi Sudha, digelar pada purnama bulan kelima di Danau Segara Anak, dekat puncak Gunung Rinjani setiap lima tahun sekali. 
Di tengah siraman sinar bulan, terhampar bangunan pura sementara yang dibuat oleh para umat Hindu khusus untuk upacara Mulang Pekelem. Penjor juga didirikan untuk kebutuhan upacara. Suasana mistikal terasa sangat lekat malam itu. Bahkan alam seolah mengiyakannya. Cuaca di sekitar danau yang tadinya tenang menjadi turun kabut dan juga beriak. Dilanjutkan dengan terjadinya kesurupan yang terjadi pada beberapa umat yang sedang beribadah. Hal ini menandakan masuknya ke upacara pembuka yatu upacara Melaspas dan Nuhur. Malaspas adalah prosesi yang dimaksudkan untuk menyucikan tempat upacara dari kekuatan jahat yang mengganggu. Sedangkan Nuhur adalah lantunan yang disenandungkan guna mengundang para dewata penunggu Gunung Rinjani agar mengiringi upacara.
Gadis-gadis penari turun untuk membuka upacara. Dengan gemulai mereka menyajikan tarian suci untuk para Dewata dan para Kala agar tak mengganggu umat yang sedang upacara. Upacara kali ini dikhususkan untuk Yadnya Bumi Sudha. Bumi Sudha adalah upacara yang dilakukan sebanyak lima tahun sekali sebagai upacara besar untuk menyeimbangkan jagad alit dunia manusia dengan jagad ageng. Penyeimbangan itu dilakukan dengan mengorbankan beberapa ekor hewan.
Puluhan ekor hewan yaitu kerbau, sapi, kambing dan sembilan jenis hewan lainnya disembelih sebagai korban agar dunia tenteram dan damai. Hewan-hewan tersebut dikorbankan dan dipersembahkan kepada Dewa di sembilan penjuru mata angin. Sebagai puncaknya,  dilepaskan juga sejumlah binatang liar ke alam bebas agar mereka beranak pinak dan menciptakan keseimbangan alam di Gunung Rinjani. Upacara Bumi Sudha pun ditutup menjelang malam. Kandang bintang dibakar sebagai simbol dikembalikannya segala unsur kehidupan ke haribaan alam. Prosesi pun berakhir untuk dilanjutkan esok hari, saat Yadnya Mulang Pekelem akan melengkapi ritual pengorbanan para pemeluk agama Hindu. Para umat dan peserta upacara lainnya kembali ke tenda dan tempat penginapan masing-masing. 
Matahari terbit, rasa lelah dari upacara semalam sudah hilang dihempas cahaya pagi. Para umat dan peserta upacara lainnya bersiap melakukan prosesi terakhir yaitu Yadnya Mulang Pakelem. Kali ini pengorbanan dilakukan dengan cara menenggelamkan benda-benda berharga, seperti emas, perak, tembaga, dan uang logam ke dalam Segara Anak. Logam mulia yang dibentuk dalam berbagai simbol harapan. Bentuk Udang sebagai simbol kesuburan. Kura-kura sebagai simbol dunia. Ikan sebagai simbol kehidupan. Peripihan atau lempengan hewan, dan unggas sebagai simbol alam semesta. Pengorbanan tersebut dilakukan dengan maksud untuk menganugerahkan hujan dan tanah subur di Tanah Sasak. 
Suasana haru dan khidmat meneyelimuti proses pelarungan logam-logam yang telah dibungkus ke dalam beberpa lembar kain. Dalam suasana dingin pagi itu para pemuda seperti berlomba berlarian untuk memasuki Sagara Anak, seolah ingin menunjukkan siapa yang paling setia pada Dewata Penguasa Segara Anak. Satu demi satu logam berharga masuk ke dalam perut Sagara Anak. Tuntas sudah ritual untuk memanggil keharmonian alam Lombok. 
Saat sore tiba dan purnama muncul kembali, tari topeng hadir untuk perjalanan suci dari ritual Yadnya Mulang Pekelem dan Yadnya Bumi Sudha. Terasa megah dan indah. Seolah-olah dewata telah menerima semua pengorbanan umatnya. Perjalanan pulang esok hari tentu adalah hari baru dengan batin yang terasa lebih damai. 

Referensi: 
https://wisatanusatenggara.wordpress.com/wisata-nusa-tenggara-barat/upacara-mulang-pekelem/
http://fokusunram.blogspot.co.id/2012/11/upacara-mulang-pekelem-tradisi-tahunan.html