Uniknya Lingsar, Rukunnya Penganut Dua Keyakinan

Jika Anda berlibur di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), maka sempatkanlah mengunjungi Pura Lingsar di Desa Lingsar, Kabupaten Lombok Barat (Lobar). Pura Lingsar ini merupakan lambang persatuan dan kerukunan beragama di pulau Lombok, yakni umat Islam dan umat Hindu. Karena kedua umat beragama tersebut mengelola dan beribadah secara bersama-sama pada waktu-waktu tertentu di Pura Lingsar ini. Salah satunya, tradisi “Perang Topat” (perang ketupat) yang masuk calendar of event Pariwisata NTB.
Pura Lingsar ini dibangun Raja Anak Agung Gede Ngurah pada tahun 1714. Dia adalah keturunan Raja Karangasem Bali yang sempat berkuasa di sebagian pulau Lombok pada abad ke 17 silam. Pura ini terbagi menjadi dua bagian, yakni di sebelah utara terdapat tempat beribadah umat hindu, yakni pura Gaduh. Sementara di bagian selatan terdapat bangunan Kemaliq yang digunakan umat muslim (wetu telu) untuk beribadah dan ritual adat suku Sasak (suku asli pulau Lombok).
Dua bangunan berdampingan itu dibangun dengan arsitektur Bali dan karena keunikannya sejak
1990-an ditetapkan sebagai benda cagar budaya. Selain kedua bangunan itu, terdapat juga 2 bangunan disebut Bhatara Bagus Balian, dan Lingsar Wulon yang hanya dibatasi dengan tembok besar. Pura Lingsar ini merupakan Pura terbesar di NTB dengan luas 26 hektar.
Terdapat kolam Telaga Ageng seluas 6.230 meter per segi yang dibangun untuk menghormati Dewa Whisnu. Kolam ini airnya jernih dan tidak pernah kering. Bahkan kedalaman kolam itu selalu tetap setiap saat. Di kolam itu terdapat ikan tuna besar yang panjangnya mencapai satu meter lebih. Pengunjung kolam itu akan berusaha memancing dengan kuning telur ayam rebus agar ikan tuna itu bisa muncul. Jika ikan tuna itu keluar, maka dipercaya sebagian orang akan mendapat keberuntungan.
Di kolam ini juga ada tradisi melempar uang koin untuk mendapatkan kemudahan rejeki dari Tuhan. Setelah pengunjung melempar uang koin, maka akan membalikan badan dan berdoa. Di dasar kolam akan terlihat banyak sekali uang koin yang tidak diperkenankan untuk diambil. Telaga Ageng mempunyai 9 pancuran yang airnya akan memancar ke dalam kolam.
Ketika masuk ke dalam kawasan Pura utama, pengunjung harus memakai selendang kuning yang diikatkan pada pinggang. Hal itu untuk menghormati tempat ini yang dianggap suci umat Hindu. Selendang itu akan diberikan penjaga Pura dan akan diambil kembali setelah keluar dari Pura. Para pengunjung akan ditemani pengelola pura atau bisa juga guide local untuk menjelaskan apa dan bagaimana Pura Lingsar.
Sebagai lambang pemersatu dua umat beragama, maka di Pura ini terdapat aturan-aturan yang harus ditaati para pengunjung dan setiap orang yang melakukan ritual agama. Salah satunya, tidak diperkenankan menghaturkan sesaji dari babi dan sapi. Babi haram bagi umat Islam, dan sapi dianggap suci bagi umat Hindu. Kedua jenis binatang itu juga tidak boleh dipelihara di sekitar kawasan Pura. Bangunan yang berdiri juga tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Salah satu upacara di Pura Lingsar yang dilakukan secara bersama umat Hindu dan umat Islam adalah Tradisi Perang Topat. Dalam ritual ini mereka berperang (saling lempar) menggukan ketupat. Tradisi Perang Topat ini digelar setelah panen raya, sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan dan juga berharap agar musim tanam ke depan mendapat kesuburan. Usai Perang Topat, masyarakat akan berebutan untuk membawa pulang ketupat sisa hasil peperangan. Ketupat itu ditaburkan di sawah agar tanahnya subur.
Tradisi ini digelar tak lepas dari keberadaan mata air Langser (asal nama Lingsar) yang terletak di samping kompleks Pura Lingsar. Masyarakat Lingsar percaya mata air itu berasal dari bekas tancapan tongkat Raden Mas Sumilir, (penyebar agama islam di sana abad 15). Hingga kini mata air Langser mampu mengairi pertanian di Lingsar hingga ke sebagian wilayah Lombok Tengah (Loteng). Petani bisa menanam dan memanen padi hingga tiga musim dalam setahun.
Di luar kawasan Pura Lingsar terdapat lapak-lapak pedagang kaki lima yang berjejer untuk berjualan makanan dan minuman. Pengunjung tidak dikenakan karcis masuk, hanya membayar biaya parkir Rp 2 ribu untuk sepeda motor, dan Rp 5 ribu untuk mobil. Pura Lingsar terletak sekitar 7 kilometer sebelah barat Narmada, Lobar atau 9 kilometer dari Kota Mataram. Kendaraan umum bisa didapat dari Pasar Tradisional Narmada dengan tarif Rp 5 ribu, tapi sangat jarang untuk penumpang perorangan. Jadi disarankan Anda mengikuti paket-paket wisata yang dijual biro perjalanan setempat. (lombokmagazine)
Map Location :